MSTI Q3 2025 - Peraturan TKDN US, Peluang atau Tantangan?

Foto kantor PT Mastersystem Infotama
Salah satu persetujuan Indonesia dengan hubungan dagang US adalah terkait dengan relaksasi TKDN. Bagaimana perubahan TKDN ini dapat berpengaruh kepada PT Mastersystem Infotama yang salah satu industrinya sangat berhubungan dengan prinsipal hardware dan software dari Amerika?

Aturan Lama (Sebelum 19 Feb 2026):

Sebelum tanda tangan perjanjian dagang resiprokal Indonesia-AS (ART) pada 19 Februari 2026 antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump:
  • TKDN wajib diterapkan ketat untuk lindungi industri lokal: infrastruktur ketenagalistrikan minimal berdasarkan nilai gabungan barang/jasa; perangkat TI-komputer (laptop, server) ikut regulasi HKT dengan target 30-35%;
  • Pengadaan pemerintah prioritaskan Buku Apresiasi PBN; pre-assessment verifikasi independen untuk proyek besar.
  • Software dihitung sebagai komponen TKDN, terutama untuk perangkat elektronik/telematika seperti komputer, tablet, dan handheld: bobot aplikasi hingga 70%, pengembangan minimal 8%, dengan syarat embedded apps lokal (minimal 2-7 apps atau 14 games), 1 juta+ pengguna aktif, injection di dalam negeri, dan server lokal.

Aturan Baru (Setelah 19 Feb 2026):

  • Pembebasan TKDN bagi perusahaan dan barang AS di proyek infrastruktur/digital (Article 2.2 ART): tidak lagi hitung kandungan lokal untuk produk impor AS;
  • Berlaku juga relaksasi impor, standar, dan sertifikasi halal untuk AS; dampak potensial ganggu UMKM lokal tapi dorong investasi AS;
  • Produk AS (termasuk software impor AS) dibebaskan dari syarat TKDN di proyek infrastruktur/digital komputer pemerintah, sehingga software AS tidak perlu hitung kandungan lokal.

Kesimpulan Kami:

Dengan aturan yang semakin memudahkan (relaksasi TKDN) yang diberikan khusus hardware dan software US memberikan daya saing yang semakin kuat untuk bersaing dengan produk China misalnya produk terkait komputer, switch, router, chips maupun produk software seperti Cybersecurity, Public Cloud, bahkan AI related software.

Hal ini memberikan PT Mastersystem Infotama berpeluang untuk lebih mudah menawarkan cross dan upselling kepada Bank BUMN yang selama ini lebih sulit diterima karena aturan lama tersebut. Potensi ini memudahkan MSTI dalam menawarkan harga saing kontrak dan barriers to entry yang semakin mudah.

Di lain sisi, hal ini juga berpeluang membuat prinsipal langsung menawarkan produk dan jasa mereka langsung kepada industri Bank Tier 1, namun kami menilai hal ini lebih terbatas mengingat PT Mastersystem Infotama yang sebagai system integrator memegang banyak prinsipal secara bersamaan sehingga switching cost menjadi lebih sulit.

Ini artinya penawaran yang diberikan PT Mastersystem bervariasi dalam memberikan sebuah jasa yang lebih kompleks, dimana switching mereka berpotensi downtime dan resiko trust yang lebih besar pada bank tersebut. 

Pada akhirnya, kami menilai ini sebagai peluang bagaimana MSTI dapat mencetak kenaikan laba dari pemasangan hardware software yang semakin banyak dan recurring income dari hasil maintanance yang semakin tinggi. 

Artikel Favorit Investor

Bisnis TOWR, apa saja yang perlu dicerna dari Q3 2025?

BMRI di Harga Rp 4900: Dividen Yield 9,5% Masih Konservatif, Ini Bukti dari Neraca Terbaru

DMAS Q4 2025 - Analisis Laporan Keuangan, Penurunan Laba dan Sinyal Peringatan

Bagaimana Pertumbuhan HMSP dan Apa Saja yang Perlu Diperhatikan di Q425?